Michael Wattimena: Anak Maluku Jangan Jadi Penonton di Tengah Kekayaan SDA dan Proyek Blok Masela
Ambon, indonesiatimur.co – Kekayaan sumber daya alam Maluku menyimpan peluang besar bagi masa depan daerah. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila generasi muda Maluku tidak mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam pengelolaannya.
Pesan itu disampaikan Dr. Michael Wattimena, SE., SH., MM., Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI sekaligus Komisaris PT Pertamina International Shipping, saat berbicara mengenai pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Maluku dalam acara sharing session IKAPATTI alumni inspire, di auditorium Unpatti, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Wattimena, Maluku memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, hingga energi dan sumber daya mineral. Potensi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan generasi muda melalui pendidikan, peningkatan kompetensi, serta keberanian bersaing.
Ia secara khusus menyoroti peluang besar dari pengembangan proyek gas Blok Masela yang telah dinantikan masyarakat Maluku selama kurang lebih 28 tahun.
Dengan nilai investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS, proyek strategis tersebut dinilai akan membuka berbagai peluang ekonomi dan lapangan kerja, terutama bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Maluku secara keseluruhan.
Namun, Wattimena mengingatkan agar besarnya investasi tersebut tidak justru membuat anak-anak Maluku hanya menjadi penonton.
“Apakah dengan investasi sebesar itu masyarakat Maluku, khususnya anak-anak Maluku, hanya akan menjadi penonton? Ataukah kita akan ikut mengambil bagian dan berkompetisi di dalamnya?” ujarnya.
Ia menegaskan, persiapan SDM tidak boleh dilakukan ketika proyek sudah berjalan. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan harus mulai menyiapkan generasi muda sejak sekarang agar memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan industri.
Wattimena mengingatkan kembali pesan Presiden Joko Widodo ketika meresmikan Jembatan Merah Putih pada 2016, yang menekankan pentingnya mempersiapkan anak-anak Maluku agar dapat terlibat langsung dalam proyek Blok Masela.
Pendidikan Bukan Sekadar Mengejar Ijazah
Di hadapan lebih dari seribu mahasiswa Unpatti yang memadati auditorium, Wattimena juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai modal utama untuk menghadapi persaingan.
Ia mengungkapkan, keinginannya untuk terus meningkatkan kapasitas diri berangkat dari kesadaran bahwa kesempatan berkarier di berbagai lembaga negara membutuhkan kualifikasi pendidikan tertentu.
Karena itu, menurutnya, seseorang harus mempersiapkan diri sebelum kesempatan datang.
“Pendidikan bukan sekadar mendapatkan selembar kertas, melainkan bagaimana kita benar-benar menjalani proses dan memperoleh ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Ia mengajak generasi muda memegang tiga prinsip penting dalam kehidupan, yakni menjaga integritas dan etos kerja, berani keluar dari zona nyaman, serta terus belajar sepanjang hayat.
Baginya, latar belakang keluarga dan keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi cita-cita.
Ia bahkan menceritakan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana. Orang tuanya merupakan seorang guru sekolah dasar yang kemudian mengajar di SPG dan PGSD.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang tidak boleh membatasi mimpi hanya karena berasal dari kampung atau keluarga dengan keterbatasan.
Maluku Kaya Potensi, Generasi Muda Harus Berani Bersaing
Wattimena menyebut Maluku sebagai daerah yang dianugerahi kekayaan alam dan budaya luar biasa.
Ia juga menyinggung hasil survei kebahagiaan yang menempatkan masyarakat Maluku pada tingkat kebahagiaan yang tinggi. Menurutnya, kekuatan budaya, musik, dan kehidupan sosial masyarakat merupakan modal penting yang harus dijaga dan dikembangkan.
Namun, potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk itu, generasi muda perlu meningkatkan kemampuan sesuai sektor unggulan daerah, khususnya kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, serta energi dan sumber daya mineral.
“Jangan sampai kekayaan sumber daya alam Maluku justru dikelola oleh orang-orang dari luar, sementara anak-anak Maluku hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” tandasnya.
Organisasi dan Networking Membuka Peluang
Selain pendidikan formal, Wattimena juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya berkutat dengan aktivitas akademik di dalam kampus.
Ia mendorong mahasiswa aktif dalam organisasi, baik organisasi intra maupun ekstra kampus, karena pengalaman tersebut dapat membentuk karakter, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, serta memperluas jaringan atau networking.
Ia menceritakan pengalamannya ketika aktif dalam organisasi BEM dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), termasuk mengikuti Kongres di Tomohon pada 1992.
Dari pengalaman berorganisasi, ia belajar membangun relasi, berdiskusi, berdebat secara sehat, serta berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, jaringan yang dibangun sejak masa mahasiswa dapat menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan karier seseorang.
Ia sendiri merasakan manfaat pengalaman organisasi dan relasi ketika berkiprah di DPR RI hingga mendapatkan berbagai kepercayaan di tingkat nasional.
Tiga Pesan untuk Generasi Muda
Dalam kesempatan tersebut, Wattimena menitipkan tiga pesan penting kepada generasi muda.
Pertama, memiliki mimpi besar dan tidak takut gagal. Menurutnya, masa depan tidak boleh dibatasi oleh keadaan saat ini. Setiap orang harus berani menetapkan tujuan dan bekerja keras untuk mencapainya.
Kedua, jangan pernah melupakan asal-usul. Kesuksesan yang diraih seseorang tidak terlepas dari pengorbanan, perjuangan, dan doa orang tua serta keluarga.
Ketiga, jangan hanya menjadi orang sukses, tetapi jadilah pribadi yang bermakna.
“Percuma kita mencapai kesuksesan apabila kehadiran kita tidak memberikan manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, keberhasilan bukan semata-mata tentang jabatan, kekayaan, atau kedudukan, tetapi sejauh mana seseorang mampu memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, daerah, bangsa, dan negara.
Kapal Tidak Dibuat Hanya untuk Berlabuh
Menutup pesannya, Wattimena menyampaikan filosofi kapal sebagai gambaran perjalanan kehidupan.
Menurutnya, kapal memang terlihat indah ketika bersandar di dermaga. Namun, kapal tidak pernah dibuat hanya untuk berada di tempat yang nyaman.
“Kapal dibuat untuk menghadapi gelombang dan membelah lautan,” tuturnya.
Filosofi tersebut, katanya, harus menjadi pegangan generasi muda dalam menghadapi kehidupan. Keberanian dan kualitas seseorang tidak hanya terlihat ketika berada dalam situasi nyaman, tetapi ketika mampu menghadapi tantangan dan memberikan kontribusi nyata.
Ia berharap generasi muda Maluku tumbuh menjadi pribadi yang berpendidikan, berintegritas, memiliki etos kerja, berani berkompetisi, serta tidak melupakan daerah asalnya.
Sebab, masa depan Maluku tidak cukup hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam. Daerah ini membutuhkan generasi yang mampu mengelola potensi tersebut dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat Maluku sendiri.
Jangan hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Generasi muda Maluku harus mempersiapkan diri untuk menjadi pelaku pembangunan di daerahnya. (it-02)


